Tuhan menciptakan aku dengan satu hati, sebuah perasaan yang
begitu peka akan rasa yang ada di dalam hati ku. “cinta” sebuah rasa yang
begitu asing bagi hati ku, begitu lama untuk aku merasakan “cinta”. Aku pernah
mencintai, dan aku kira aku juga akan dicintai sehingga perasaan ini begitu
banyak aku kuras untuk mencintai, karena yang ku fikirkan hanya “mencintainya
dengan sepenuh hati dan dengan cinta yang paling baik”. Hingga saatnya cinta
ini begitu mudah untuk dilupakan, seperti sampah yang dibuang begitu saja tanpa
perasaan kasihan sedikitpun. Dan akhirnya aku bersama sisa cinta ku ini
mengarungi waktu demi waktu melewati rasa sakit yang mendalam. Ini seperti
lubang dalam di pangkal hati yang begitu perih jika disentuh.
Aku memutuskan untuk tidak lagi bermain dengan cinta, aku
memutuskan untuk lebih baik mengobati perasaan ini sendirian. Hingga suatu hari
kamu datang, membawa perasaaan yang lain, yang tak pernah aku tunggu setelah
aku kehilangan. Kamu membawa cinta sempurna yang begitu indah seperti berlian
dibawah sinar matahari yang begitu berkilau. Cinta itu begitu mudah kamu
serahkan dengan sepenuh hati, sehingga aku yakin bahwa kamu memang
sungguh-sungguh mencintaiku. Cukup lama aku tenggelam dalam kebahagiaan ini,
seketika aku terfikir akan cinta lama yang melukai ku. Aku terdiam, tak
hentinya terfikir, betapa ini sama seperti yang aku rasakan terdahulu, saat aku
menilai bahwa cinta itu indah. Namun logika ini berkata lain, saat aku terluka,
kamu lah yang membuat ku lupa akan luka ini, kamu lah yang buat aku melupakan
segala perasaan sakit ini. Dan aku mulai mencintai mu dengan begitu indah,
sepenuh hati ku, setulus perasaan ini.
Mencintai kamu merupakan hal teristimewa ku, aku seolah
bernafas untuk mencintai kamu, aku seolah bernyawa karena kamu, kamu mengubah segala
sisi yang ku anggap buruk, membuat hidup ku seolah berarti. Begitu banyak cinta
yang kita tumbuhkan sehingga kita lupa untuk menyiraminya dengan rasa
kepercayaan, memupukinya dengan introspeksi diri, dan kita lupa jika cinta tak
selamanya akan bahagia, di dalam cinta akan ada rintangan yang begitu besar. Aku
dan kamu bertahan untuk bersama dengan cinta ini, cinta yang sama. Begitu besar
pengorbanan yang harus dilalui untuk cinta ini, untuk kesetiaan ini. Begitu banyak
tenaga yang terkuras habis untuk menahan emosi dari setiap langkah yang kita
ambil. Dan tiba waktunya untuk kamu menyerah dengan ujian ini, kamu pergi tanpa
peduli kan aku yang berjuang dengan cinta ini sendiri. Kamu pergi membuat cinta
ini seolah cacat seperti kaki yang pincang, tak bisa berjalan dengan sempurna. Seperti
tangan yang bertepuk dengan satu tangan, tanpa suara tanpa tersentuh tangan
satunya lagi.
Aku tak begitu mengerti mengapa cinta ini begitu lama aku
biarkan sendiri, tak mengerti mengapa begitu banyak air mata yang aku
sia-siakan, aku pun tak mengerti apa yang salah jika kamu kembali untuk bersama
ku melawan segala godaan lain selain cinta ini? Mungkin aku manusia biasa yang
hanya selalu mengharapkan cinta yang sempurna, mengharapkan kamu yang selalu
aku pandang sempurna untuk aku cintai. Kenapa Tuhan begitu lama mempenjarakan
aku dalam kesabaran ini? Padahal logika ku akan selalu melawan hati ini untuk berhenti. Tapi, Cinta akan
selalu mengalahkan logika bukan? Sehingga Cinta ini selalu bertahan untuk
mencintai kamu, sampai kapan pun.
No comments:
Post a Comment