Saturday, April 14, 2012

si Pura-Pura

 Nama ku Nala. aku bersekolah disekolah negeri di Bandung. Di cerita ini aku ingin berbagi tentang pahitnya kepura-puraan seseorang dalam memendam suatu perasaan. Entah bahagia atau sedih. Yap! Inilah cerita ku. Tentang perasaan yang sulit untuk aku ungkapkan. Aku bahagia. Tapi aku juga merasa sedih.




Aku mempunyai mantan yang bernama Reza entah dengan alasan apa ia meninggalkan ku. Dia pergi disaat ya aku masih mencintainya, sangat mencintainya. Setelah sebulan sudah berlalu, aku baru menyadari bahwa laki-laki yang aku cintai telah bermain hati. Aku yang hampir satu tahun menjalani ikatan dengan nya sungguh merasa kecewa. Memang sudah berkali-kali aku mengetahui jika dia banyak mendekati perempuan lain. Tapi aku tetap berusaha percaya karna aku mencintainya. Aku berpura-pura memaafkannya meski hati ku tentu saja hancur berkeping-keping lebih hancur dari kepingan kaca yang pecah. Cinta ku membuatku sanggup untuk berpura-pura tersenyum menanggapinya. Cintaku menguatkan aku yang telah rapuh. Aku tetap mencintainya.


Namun kini terasa berbeda. Dia telah jauh. Sangat jauh lebih jauh daripada saat aku mengenalnya dulu. Meskipun sudah hampir setahun dia meninggalkan ku. Aku tetap kuat untuk bertahan berdiri tanpanya, meski ku tahu aku lemah tanpanya. Tapi inilah maunya, aku harus menjauh. Sering aku berada diposisi aku merasa aku mau mati, daripada aku harus melihatnya mendekati perempuan lain. Dia kini bermain disekitarku. Menunjukan kekuatannya sebagai laki-laki yang mampu bermain tega di hadapan perempuan yang lemah. Aku kembali harus berpura-pura untuk tersenyum mendukung aksinya. Aku haru berpura-pura tak menangis dihadapannya. Aku harus berpura-pura tak sedih didepannya. Dan yang paling aku harus paksakan adalah aku harus berpura-pura tak mencintainya lagi. “lebih baik kau bunuh aku” kata ku ketika aku merasa tak sanggup.
Harus bagaimana lagi aku menyampaikan betapa berarti dirinya di hidupku yang sederhana ini? Aku hanya ingin menjadi orang yang paling dia puja lagi. Hanya itu dan aku akan menjaganya dengan baik, lebih baik dari semua orang yang dia dekati selama ini.


Sekarang, seseorang telah mencoba mendekati hati ku. Namanya Zaki. Dia baik. Namun entah mengapa aku tak bisa menyayanginya. Aku hanya menyukainya seperti teman biasa. Hari-hari ku kini diisi olehnya. Dengan ramah Zaki menyapaku setiap pagi. Meski berkali-kali aku tak membalas sapaanya itu. Tetap saja dia berbaik hati sabar menegurku. Mengingatkan makan ku. Perhatian. Ini keterlaluan menurutku. Aku tak bisa membiarkan dirinya terus-terusan seperti ini. Aku juga takut dibilang pemberi harapan kepadanya. Padahal untuk sayang pada Zaki pun aku tak sempat karna aku sudah terlalu menguras perasaanku untuk Reza. Aku coba untuk menjauhi nya perlahan agar tak melukai hatinya. Aku harus berpura-pura biasa saja. Namun gagal. Selalu saja Zaki memperlakukan aku dengan baik. Tega kah aku membalas kebaikannya dengan menjauhinya? Mungkin aku akan berpura-pura baik juga padanya. Tapi hanya untuk membalas kebaikannya juga. Tidak lebih.


3 bulan berlalu. Aku masih menjadi orang yang selalu berpura-pura. Terlebih berpura-pura membenci Reza. Hah! Jujur. Aku lelahuntuk berpura-pura. Andaikan ada seseorang yang tau betapa malangnya hidupku harus selalu berpura-pura menutupi perasaan ini. Tiba saat nya ketika Zaki menyatakan cinta nya padaku. Damn! Mungkinkah aku harus menolaknya mentah-mentah? Berkali-kali aku bilang aku tak bisa bersamanya, karna alasan yang ku pendam sendiri. Tentu saja karna hatiku ada pada orang lain.
Akhirnya aku terima cintanya. Meskipun Zaki tak mengetahui jika aku sama sekali tak memiliki rasa untuknya. Kejamnya aku jika harus tiba-tiba bilang “aku tak menyukaimu sama sekali Zaki!”
Baru sehari aku berpura-pura menyukainya aku merasa ini tak baik. Aku hanya membahagiakannya sedangkan aku? Harus berdosa berbohong, berpura-pura menyukainya bahkan mencintainya. Tapi akankah Zaki menganggapku jahat karna aku telah membiarkannya mencintaiku. Lalu harus bagaimana? Aku tak pernah menyuruhnya menyukaiku, apalagi mencintaiku. Jadi memang bukan salah ku jika dia mencintaiku kan? Tuhan..tolong hentikan ini. Aku lelah berpura-pura. Batin ku terasa tertusuk.


Cukuplah hanya aku dan yang membaca curahanku ini yang tau. Biarkan mereka bermain diatas kepura-puraan ku terlebih Reza. Jika aku harus jujur aku akan bilang pada Reza “aku masih merindukan kamu yang memuja ku. Aku masih mencintaimu segenap hatiku.”
Dan yang akan aku bilang pada Zaki kelak “maaf aku telah membiarkan mu mencintaiku dengan aku yang tak pernah bisa berpaling dari Reza. Aku menyukaimu seperti aku menyukai teman ku yang lainnya”
Dan aku akan bilang pada semua orang “janganlah kalian sembunyikan apa yang kalian rasakan. Berpura-pura mencintai dan membenci seseorang. Karna perasaan bukanlah hal yang bisa dipaksa kan. Rasa sakit ini cukup aku yang rasakan atas kepura-puraanku”
 SEKIAN




ini cerita karangan bukan cerita asli. tapi kalo cerita kehidupannya ada yang sama sama kaya ini maaf-maaf aja ya hehehe.
(cerita ini juga di post di fb gue)

No comments:

Post a Comment