Air mata
ini tak henti mengalir, ketika sebuah rasa sakit menghantam hati yang rapuh
Berulang
kali fikiran ini berkata “jangan menangis”, namun tetap saja butiran suci ini
mengalir perlahan membasahi pipi
Batin ini
terasa seperti tertusuk duri yang amat besar
Kepala ini
terasa seperti tertimpah suatu beban yang sangat berat
Sampai kapan
diri ini menghabiskan air mata?
Sampai kapan
semua hati ini berfungsi amat baik untuk merasakan sakit hati?
Sampai kapan
akal sehat ini menjadi tidak sehat?
Sampai kapan
otak ini digunakan untuk melakukan hal yang tidak-tidak?
Setiap detik
mulut ini berkata “aku lelah”
Namun tetap
saja dipaksakan untuk bertahan
“aku
putus asa” otak ini berkata, “aku masih kuat” dan hati pun menjawab.
“aku
rapuh” badan ini lemas seperti tak bertulang, dan sekali lagi hati berkata “aku
masih kuat menahan sakit ini”
Disaat yang
bersamaan air mata pun berkata “aku hampir habis”
Setetes
air mata ini kau anggap apa?
Semua pengorbanan
ini kau anggap apa?
Aku sesali
kesalahan yang ku perbuat dahulu, dan aku telah berubah untukmu
Aku bukanlah
“aku” lagi, aku menjadi “aku” yang baru, demi kamu yang selalu tak bisa anggap
apa-apa pengorbanan ku.
Semuanya
telah aku lakukan, telah aku relakan, telah aku serahkan, telah aku korbankan
Namun percuma.
Kenapa? Karena kamu tak pernah berfikir untuk melihat aku ada
Kamu hanya
menilai aku kesalahanmu, aku masalah mu, aku beban mu dan aku bukan kebahagiaan
dari Tuhan untukmu
Andai nanti
aku lelah, dan air mata ku mengalir untuk terakhir kalinya, jangan pernah minta
aku untuk kembali
Dan nanti
ketika aku tertawa, diatas tangisan dan kesedihan mu
Kamu
akan menyadari betapa berati nya kasih sayang ini, cinta ini, aku, dan air mata
ku